Saturday, December 25, 2010

nenek tua pejalan kaki

Nenek Tua Pejalan Kaki
25 December 2010
By luapple
Luapple27@gmail.com

Burung-burung berdendang… suara-suara merdu mereka mewarnai desa sepi yang terpencil. Pohon-pohon bambo bergoyang-goyang laksana menari atas nyanyian burung-burung. Gemericik air dari aliran air dekat rumah sang nenek tua menambah suasana indah dan menyenangkan..
Menungu diteras gubuk kecil nan elok.. aku melihat dari kejauhan dan aku pun berlari menghampiri nenek tua itu untuk menjemputnya agar bisa mendampinginya sampai ke gubuk kecilnya.
Melihat nenek tua itu membawa sayur-sayuran dan beberapa bumbu-bumbu dapur… aku tak tega melihatnya.. ku bantu membawakan barang-barang itu sebagian..
“Nenek… apa nenek tidak capek belanja kepasar yang jauhnya sampai berkilo-kilo itu? aku aja nek, jalan paling dari rumah nenek sampai ke gubuk depan itu-tu nek.. udah capek dan pegel-pegel kaki ini”.
“Ya tidak lah nak, saya ini sudah terbiasa jalan… ya pergi kemana-mana jalan.. tapi klu mau ke surabaya ya naik bus nak… “
“Ah nenek bisa aja… emangnya klu ke Surabaya ke rumah siapa nek?
“Kerumah ponakan nenek, amir namanya.. dia sekarang sudah beranjak dewasa.. sudah tinggi, ganteng lagi nak.. dia ank dari adik nenek satu-satunya yang sekarang sudah tinggal di Surabaya…
“Wah,,, umurnya berapa sekarang nek? Sambil membayangkan seperti apa ya dia….
“Sepertinya seumuran dengan kamu nak..
“Tadi berngkat jam berapa nek kepasar?
“Jam 4.00 sekitar subuh itu nak…
Sambil meletakkan sayur-sayuran serta bumbu-bumbu dapur itu dimeja .. aku membantu nenek membuat minuman.. kamipun mulai bercengkrama di depan teras yang ditemani dengan sepoi-sepoinya udara serta gemerisik air dan daun-daun bamboo yang tertiup oleh angin..
“Oya nek… kenapa sich nenek suka sekali jalan kaki.. tiap hari aku lihat nenek selalu jalan kaki. Pas aku berangkat kesekolah diantar pak harjo, ketemu nenek dipertigaan sekolahku yang jauhnya minta ampun itu.. aku lihat nenek jalan, pas aku mau ke supermarket, ehhh ketemu nenek ditoko elektronik deket supermarket itu.. jalan pula.. nenek gak capek ta?
“Kenapa harus naik mobil dan sepeda motor sich nak.. nenek itu lebih suka jalan kaki.. dulu sebenarnya nenek bisa naik sepeda motor… pergi kemana-mana bawa sepeda motor pemberian almarhum bapak nenek. Motor itu yang selalu menemani nenek dan suami nenek kemana-mana.. dulu setiap pagi suami nenek yang selalu mengantarkan nenek kepasar untuk berbelanja. Terkadang klu almarhum suami nenek tidak bisa mengantar ya saya yang mengendarai motor itu nak..
“Maaf ya nek..bikin nenek sedih..
“Tidak nak..
“Nenek senang bisa berbagi cerita dengan nak nisa
Nenek mirapun terus melanjutkan ceritanya.
“Setelah suami nenek meninggal nenek hanya bisa berharap tuhan member kekuatan untuk melanjutkan hidup nak… dengan pekerjaan nenek yang hanya jualan makanan di warung kecil ini.. tiap hari penghasilan ya hanya cukup untuk makan..
“Nenek.. (air mataku tak terasa menetes mendengarkan cerita nenek mira yang sekarng umurnya mungkin sudah sekitar 45 tahun)..
“Dulu nenek bingung, dari mana nenek mendapatkan modal biar bisa meneruskan warung makan kecil ini.. lalu nenek terpaksa menjual sepeda motor warisan almarhum bapak nenek sedih tapi senang juga bisa bertahan dengan adanya modal dari hasil penjualan sepeda motor itu nak.. dan jalan kakipun bukan lagi masalh dan hal yang berat bagi nenek…
“saya tiap hari diantar jemput oleh pak harjo.. padahal aku kepengin sekali seperti nenek bisa jalan kaki kemana-mana.. merasakan terik atahari dan betapacapeknya kaki ini setelah berjalan sampai berkilo-kilo..
“La enak to nak bisa diantar jemput gitu.. la wong jalan kaki itu sebenarnya capek lo.. tapi nenek berusaha tidak capek demi bertahan hidup nak..
“Ya tapi… (sambil mengusap air mata itu, aku tersenyum kecil, melihat perjuangan nenek mira demi mempertahankan hidupnya)
“umpama ada sepeda motor ni nek, apa nenek masih bisa naik sepeda?
“Wah klu naik sich bisa-bisa aja nak.. tinggal naik to..
“Ah nenek..Maksud saya mengendarai sepeda motor nek…
Senyum kecilnya, membuat aku ikut tersenyum..
“Insyaallah masih bisa nak, wong nenek dulu waktu masih muda dan waktu nenek masih bersama almarhum suami nenek klu terpaksa kepasar tanpa beliau nenek naik sepeda itu nak..sepeda motor laki-laki yang nenek sudah jual itu nak..
“Wah.. nenek keren juga ya…
“Ya mau gimana nak, itulah satu-satunya sepeda yang almarhum bapak saya punya dan di wariskan ke nenek.. sedih sich nak klu mengingat. Sepeda yang seharusnya nenek jaga dan rawat malah nenek jual.. la mau gimana lagi.. wong yang namanya butuh modal..
“Ya semoga almarhum bapak nenek mengerti dengan keadaan nenek sekarang… almarhum bapak nenek pasti bahagia lihat nenek yang mau bertahan dan berusaha keras menghadapi hidup ni.. walau sebenarnya saya gak tahu nek…
“Bukannya gak tahu nak.. tapi nak nisa belum merasakan.. nak mira butuh proses.. proses untuk bertahan dan menjadi dewasa..
“Ya nek (sambil mengaggukkan kepala)..
Mobil yang disetir oleh pak harjo telah berparkir didepan gubuk kecil kepunyaan nenek mira.. akupun harus pulang, karena hari sudah mulia siang, dan pasti ibu yang menyuruh pak harjo menjemputku..disuruh makan siang.. dan istirahat.
“Oya nek… besok saya kesini lagi boleh kan nek? mau minta diajarin masak.. masakan nenek enak banget. Sambil aku kepengin bantu-bantu nenek jualan..
“Boleh lah nak nisa.. besok kesini ja.. nenek besok subuh mau kepasar, klu nak anisa mau ikut nenek senang sekali..
“Jalan ya nek?
“Ya iya nak.. klu capek ya tidak usah..
“Emmmmm….. ya dah nek besok aku ikut kepasar sambil jalan-jalan.. lama kakiku ini tak berjalan sampai berkilo-kilo..
“Nenek.. wasalamualaikum..
“Wa’alaikum salam nak nisa.. sampai ketemu besok pagi..
“Oka nek… da…
Akupun sambil melambaikan tangan mengucap perpisahan dan dalam hatiku berkata, “semoga besok aku bisa bertemu dan berbincang-bincang lagi dengan nenek mira lagi”…. Mobil melaju dan aku melambaikan tangan lagi melalui cendela mobil yang setengah tebuka itu.. sambil tersenyum nenek mira pun juga melambaikan tangannya dari kejauhan…

No comments:

Post a Comment